Deja Vu

March 13, 2007

Mana Judulnya Kak?

Filed under: cerpen

Salam hangat buat para pembaca cerpen, sebelumnya perkenalkan namaku Dita mahasiswi perguruan tinggi swasta di Surabaya jurusan Sistem Informasi.

Cerita dimulai ketika 3 bulan yang lalu aku mengalami suatu kejadian aneh di kamar kosanku. Kira-kira pukul 01.00 pagi terdengar suara ketukan orang di tembok kamar sebelahku, awal-awal suara ketukan itu aku hiraukan berhubung tugas-tugas kuliah-q sudah menumpuk jadi aku hanya memusatkan semua pikiran pada laptop-ku.

Pagi harinya aku buru-buru pergi ke kampus karena ada laporan yang harus dikumpulkan sebelum pukul 08.00, sambil mata yang masih ½ nyala aq berjalan melewati jembatan yang menghubungkan kosan dengan kampusku. Setelah laporan ku-kumpulkan aku duduk santai di sebuah sofa di kampus tapi tak sadar karena sudah ngantuk berat aku ketiduran sampai sore hari.

Malam hari aku dan 3 teman kosan-ku pergi maen bilyard, sambil maen aku bertanya ke si Tina yang kamar-nya ada disebelah kamarku tentang suara ketukan kemarin malam. “Woi Tin, kemaren pagi-pagi tuh kamu yah yang gedor-gedor tembok?”, tanya-ku ke Tina. “Ih GR, ngapaen lagi malem-malem aku gedor-gedor tembok.”, jawab Tina. “Iya kok Dit, kemaren tuh si Tina kan lagi serius banget liat bokep jd gak sempet deh maen gedor-gedor.”, sahut si Nadya temen sekamar Tina. “Hah…, gila kamu masih sempet-sempetnya nonton bokep pas lagi rame-ramenya ujian”, sahut Dita keheranan. “Ah kagak kok, si Nadya lagi mimpi tuh kali.”, jawab Tina balik sambil menginjak kaki Nadya. Wah brarti siapa yah kemaren yang ketuk-ketuk tembok padahal yang ada dikosan cuma orang tiga doing pikir-ku.

Keesokan malemnya cowok-ku ngapel kekosan-ku dan ketika kami sedang berduaan di kamar tiba-tiba ada yang mengetuk kamar-ku. Serentak kami rada kaget, takutnya bapak kos lagi meriksa kamar-kamar. Dengan sigap Benny (nama cowok-ku) langsung ambil posisi pegang laptop-ku sambil pura-pura mikir dan aku sambil merapikan rambut membuka pintu. Tapi sungguh aneh ketika pintu kubuka sama sekali tidak orang di depannya, pikir-ku si Tina lagi iseng kali lalu kututup lagi. Tak lama kemudian ketika aku dan Benny lagi asyik-asyiknya mojok tiba-tiba ada suara ketukan lagi di pintu. Dengan cueknya kami menghiraukan saja ketukan tersebut tapi hampir 5 menit suara ketukan itu tidak berhenti-henti. Dengan muka sebel pintu kubuka dan langsung berteriak “Apaan sih kamu Tin, sirik ya!”, suara teriakanku. Tapi betapa kagetnya aku ternyata bukan Tina yang di depanku melainkan bapak kos yang sudah senyum-senyum sambil melinting kumisnya yang tebal pertanda jam malam sudah habis.

Keesokan harinya. “Brengsek kamu Tin!”,sapaan pagiku ke Tina. “Heh…salah apalagi aku?”, jawab Tina kebingungan. “Kamu tuh kemaren ketuk-ketuk pintu, aku kira kamu langsung aja kubentak. Eh ternyata pak Kos, malu deh aku tambah lagi pas lagi enak-enaknya mojok ma Benny lagi”, jawabku sebel. “Gak mungkin deh si Tina, kemaren seharian dia meriang trus tidur selimutan abis, gara-gara nyabutin bulu ketiaknya yang udah bias dibikin kaos kaki tuh.”, sahut si Nadya. “Ah.., brengsek kamu Nad suka buka dapur orang aja”, balas Tina sebel. “Loh aku kan ngomongin kegiatan kamu di kamar bukan di dapur?”, jawab Nadya balik. Maklum si Nadya ini rada lemot orangnya, jadi kalo ngomong ya..gitu deh. Melihat mereka berdua yang udah siap cakar-cakaran aku langsung ngeloyor aja ke kantin kampus.

Sore hari sehabis dari kampus aku pulang langsung mandi di kosan. Duh enaknya seabis mandi tubuh serasa seger deh. Tiba-tiba ketika aku menaruh handuk kulihat sekejab mata sosok anak kecil dibelakang handuk dan langsung hilang ketika aku menyingkap handuk-ku. “Hi…ada-ada aja sore gini.”, pikirku dalam hati sambil berjalan cepat ke kamar.

Pas kira-kira tengah malam aku sedang sibuk-sibuknya ngerjain tugas-tugas kampus yang besok siang harus dikumpulkan tiba-tiba terdengar teriakan di kamar Tina. Spontan aku langsung berlari dengan membawa sebuah kayu kecil yang emang udah sengaja aku siapin bila suatu saat ada maling atau si Benny mau macem ma aku, he..becanda. Di kamar Tina aku hanya bisa melihat Tina dengan muka pucat serasa melihat hantu atau malaikat dan si Nadya yang tertidur di lantai. “Tin..tin… kenapa kamu? Oi…sadar-sadar, nyebut-nyebut”, teriakku ke Tina. “Ta..ta..tadi aaa..daa… anaak ke..keecil..di depaaan pi..pi..pin..tu, mu..mu..ka.nya aaa…an..cuuurrr. Hiks..hiks…”, jawab Tina dengan gagap dan menahan tangis.

Keesokan harinya kosan-ku kedatangan seorang paranormal yang sengaja didatangkan oleh bapak Kos setelah mendengar laporan dari Tina dan Nadya. Sementara itu anak-anak kosan lain pada sibuk ngerumpi ngomongin kejadian kemarin. “hmm…pak Henry sepertinya tamu kemarin malam adalah adik dari salah satu anak kos-mu.”, kata paranormal tersebut kepada bapak Kos. Si Tina yang dari tadi menguntit di belakang paranormal tersebut langsung angkat bicara “Gak mungkin lah aku, wong aku kan anak Tunggal”, sahut Tina. “Iya kan nyokap barunya si Tina mandul, jd gak mungkin punya anak sama bokapnya”, timpal si Nadya. Buuk…terdengar seperti suara Mike Tyson menghajar sansak. Anak-anak kosan lainnya juga menyangkal dengan alesan adeknya ada yang masih bayi, masih belajar jalan, belajar ngomong, bahkan ada yang masih dalam penjara. Wuih pokoknya ada aja deh alesan mereka semua, ketika giliranku bicara aku cuma teringat bahwa dulu pernah punya adek kembar tapi ketika berumur 5 tahun dia meninggal karena kecelakaan.

Malam harinya semua warga kosan jadi pada susah tidur gara-gara masih terbayang-bayang cerita ngeri si Tina. Tapi saat itu aku jadi merasa sedih sekali gara-gara waktu ngobrol dengan paranormal siang tadi aku jadi teringat kejadian 16 tahun lalu. Saat itu aku dan Ade (nama adek-ku) sedang bermain lempar bola di halaman depan rumah yang biasa kami mainkan sore hari. Ketika giliran-ku melempar bola tak sengaja lemparan-ku mengenai kepala Ade dan terlempar ke jalan dan terjadilah kecelakaan tragis itu. Sebuah truk bangunan melintas di depan rumah dan tak sengaja melindas Ade yang sedang mengejar bola. Ayah dan ibu yang saat itu sedang duduk di teras langsung berteriak histeris. Sopir truk yang saat itu kaget mendengar teriakan tersebut langsung mengerem kendaraannya dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika turun dari truk. Semenjak kejadian itulah ibu jadi sering melamun di depan teras, aku dan ayah sudah mencoba berbagai terapi buat ibu tetapi hasilnya masih nol.

Satu bulan setelah kejadian Tina kami sekosan sudah mulai lupa penampakan tersebut. Tapi saat pagi hari terdengar jeritan dari kamar Rina, aku pun langsung berlari ke kamar Rina ternyata Tina yang sedang menjerit histeris dan betapa kagetnya aku melihat tubuh Rina membiru tergantung. Bapak kos sesaat kemudian datang dengan beberapa warga menurunkan tubuh Rina. Diatas meja bapak kos menemukan sepucuk surat yang berisi permintaan maaf Rina kepada semua anak-anak kosan bahwa selama ini ialah yang sering mencuri hp dan jam tangan anak-anak. Memang sih semenjak Rina menjadi warga kosan ini sering terjadi kehilangan hp dan jam tangan, tapi anak-anak tidak langsung berfikir bahwa Rina-lah sang pelaku karena sikapnya yang selalu ramah dan sering menjadi temen curhat anak-anak kosan jd kita beranggapan memang ada pencuri yang masing rumah ketika kita sendang kuliah. Di akhir surat tersebut terdapat sebuah huruf “a” yang tertulis dengan darah.

Gara-gara huruf berdarah tersebut kondisi kosan sekarang jadi kacau, ada beranggapan bahwa itu adalah inisial hantu kosan, ada juga yang beranggapan bahwa itu inisial anak kosan yang memaksanya untuk gantung diri, bahkan ada juga yang beranggapan bahwa “a” tersebut adalah “apel” buah kesukaan Rina dan satu-satunya yang beranggapan ini tak lain adalah Nadya. Huh…L

Semenjak peristiwa Rina kondisi kosan semakin gak karuan, kosan jadi sepi bahkan ada beberapa anak yang pindah kosan. Dan kini malah semakin menjadi-jadi, ada anak baru yang mengatakan mendengar suara anak kecil menangis di kamar mandi pas tengah malam, ada juga yang pintu kamarnya diketuk-ketuk pas tengah malam, dsb. Entah apakah cerita-cerita itu dibuat-buat atau memang benar tapi justru semenjak dua kejadian itu aku jadi termotivasi untuk membuat cerita pendek dan ini adalah kali pertama aku menulis cerpen.

Malam ini tepatnya ketika aku menulis cerita ini jantung-ku serasa berdebar sangat cepat dan dada terasa sesak untuk bernafas entah mungkin karena kipas angin yang terlalu kencang atau dalam hati-ku masih tersimpan pertanyaan apakah huruf “a” tersebut adalah “Ade”. Tiba-tiba saja bulu kuduk ku serasa tegang seiring suasana kamar yang rada hening diiringi lagu Vincent(don mclean). Duh pegel juga nulis cerita ginian padahal baru 3 r ASDNG;ABSG;JAB;GKLJDSBGLJKABSDGJKASDJGB LQJubg

 

Eh ternyata kakak pinter juga yah bikin cerita, gimana kalo Ade tambahin satu kata kakak yang belum sempat ditulis

“Aaa…deee….”, suara kakak yang surprise ketemu Ade. J

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers